Wednesday, September 5, 2012

perjalanan dari sebuah kisah


Aku seorang remaja yang baru saja bermetamorfosa menjadi seorang siswa SMA. SMA Batu adalah tempatku menuntut ilmu sekarang. Namaku Tata. Ramah, baik, periang dan rendah hati adalah opini teman-teman SMP ku tentang kepribadianku. Saat SMP, aku memperoleh prestasi yang dibilang cukup membanggakan. Dan saat masuk ke sekolah ini, aku berhasil mengalahkan pejuang-pejuang lain yang menjadi sainganku dan ingin melanjutkan pendidikannya disini. Alhamdulillah ketuntasan nilaiku lebih dari cukup untuk masuk kriteria sekolah yang katanya favorit itu. Sungguh merupakan suatu kebanggaan tersendiri untukku.
Lalu, apakah di sekolah ini akan ku bangun prestasi yang sama seperti dulu?
Bagai sebuah intan, akankah memancarkan cahayanya dan memberi kebaikan untuk semuanya?
Entahlah, aku tak tahu jalan hidupku selanjutnya.
Satu hal yang sama sekali tak pernah tersirat difikiranku sebelumnya. Kata orang-orang, masa-masa SMA itu adalah masa yang paling indah, masa yang dihiasi oleh lika-liku pergaulan, tantangan, kedewasaan, emosi dan cinta.
Tunggu dulu, cinta ?
Apakah itu ?
Bagaimana rasa itu datang ?
Rasanya belum pernah ku mengenalnya. Bukankah itu sebuah monster? monster yang membuat buruk nilai, karenanya kita terpengaruh dalam proses belajar? Hmm, kayaknya cuma aku yang punya anggapan seperti itu. Aku bertekad untuk tidak memiliki rasa itu sekarang. Alasanku sangat sederhana, aku masih kecil dan belum pantas merasakan cinta. Diiringi niatku untuk terus mengukir prestasi di sekolah yang ku petik ilmunya sekarang. Bagiku, sahabat sudah cukup mewarnai hariku.
Dan tibalah aku dikelas X-5 yang kudengar dari guru-guru ataupun murid kelas lain adalah kelas unggulan di SMA Batu. Perasaanku senang bercampur sedih, senang karena aku sudah masuk kelas ini, sedih karena pesimisku untuk menjadi yang terbaik. Aku duduk dengan Seby. Sebenarnya kami sudah sekelas dari kelas 2 SMP. Aku sangat dekat dengannya, 2 tahun bersamanya membuat rasa sayangku tumbuh dengan sendirinya.
Kala itu aku memandang seorang kakak kelas yang sering kulihat didepan musola sekolahku. Aku tahu namanya dari ka Lina, kelas 11. Namanya ka Oda, kelas 12. Entah mengapa senang sekali ku melihat wajahnya. Senyumku hadir ketika pandangannya menoleh padaku. Tapi, dia tak mengenalku. Dan akupun malu untuk berkenalan dengannya. Ka Lina yang saat itu juga sedang menyukai seseorang, menumpahkan curahan hatinya padaku dan dia percaya kalau aku takkan menyebarkan rahasia ini. Kita saling bertukar isi hati. Yang kudengar dari melodi suaranya, dia menyukai ka Man, yang katanya sekelas dengan ka Oda. Lalu dia juga bercerita kalau Ka Man sudah tahu dia menyukainya.
Kemudian aku mengenal seorang seniorku yang tak lain adalah ketua dari ekskul yang kuikuti sekarang, ka Man namanya. Ternyata, dia adalah teman baik ka Oda dan dialah orang yang disukai ka Lina saat itu. Beruntungnya diriku karena aku banyak tahu tentang ka Oda darinya. Tentu saja ka Man tidak tahu kalau aku kagum dengan ka Oda.
Namun beberapa lama kemudian, aku malah jadi akrab dengan ka Man. Dimana ada aku, disitulah ka Man ada dan juga sebaliknya. Tak lama setelah itu, dihatiku terpendam sebuah rasa yang tidak ingin ku miliki. Sebuah rasa yang menjadi tameng dalam hidupku. Sebuah rasa yang terus menghantui fikiranku, satu rasa yang memuram durjanakan hatiku dulu, dan rasa itu adalah rasa suka yang datang dengan tiba-tiba tanpaku meminta dan tanpaku mengerti.
Tapi kepada siapa rasa itu ditujukan?
Ternyata orang yang kusuka itu adalah ka Man dan bukan ka Oda. Mengapa aku sampai suka padanya?
Waktu itu ada acara sekolah yang meminta siswanya untuk menginap. Di gelapnya malam dan angin yang menusuk tulang rusuk, kuceritakan semuanya pada Seby. Dia berjanji untuk tidak mengatakan pada orang lain. Di hangatnya sambutan fajar, aku dikejutkan oleh laporannya bahwa ka Man tidak mempunyai rasa yang sama denganku. Kemarahanku meluap saat ku tahu, Seby menceritakan semuanya pada ka Man. Seby menjelaskan semuanya padaku tapi aku tak mau mendengar. Dan akhirnya kami saling diam untuk beberapa hari.
Di hari lain, tingkah lakuku berbeda dari sebelumnya terhadap ka Man. Aku acuh dan tak mau lagi menyapanya. Aku malu karena dia sudah tahu perasaanku. Dan diapun juga begitu. Lalu aku dan Seby sepakat untuk berbaikan karena aku tak mau menjadikannya musuh. Setelah itu, hari-hari kita lewati dengan tawa serta canda dan tentunya membuat rasa sayangku menggebu-gebu dari sebelumnya.
Lama kelamaan ka Man kembali dekat denganku. Tanpa kusadari, dia memberi perhatian yang lebih padaku.
Apakah ini tandanya dia .....
Ah, tidak mungkin !
Sementara, ka Lina semakin sering mengutarakan perasaannya padaku tentang ka Man. Kerekatan antara aku dan ka Man semakin membuatnya terus bertanya seputar kehidupan ka Man.
Tapi, apa yang akan ku terima bila dia mengetahui kalau aku juga suka dengan orang yang disukainya?
Oh iya, mau tak mau aku harus melupakan ka Man! Tapi kenapa sulit?
Yang buatku bingung, dia menjadikanku buah bibir pada teman-temannya. Bahkan dia cerita sendiri padaku, kalau aku pacarnya. Padahal setahuku dia hanya menganggapku adik. Ya sudahlah, ku jalani hari-hari sebagai adiknya walau berat bagiku menerimanya.
Seminggu kemudian dia meng-SMS ku
Dia : “Dek, ada acara malam ini?”
Aku : “Ga ada ka, kenapa?”
Dia : “Kakak tunggu ya di depan jam 7 malam nanti.”
Aku : “Mau ngapain? Yaudah sampai ketemu nanti J.”
Dia : “Ga mau ngapa-ngapain sih. Ok, see you.”
Aku pamit pada ibuku. Aku bilang padanya kalau aku ada keperluan yang harus kukerjakan di warnet. Dan ia mengizinkan.
Sesampainya di depan, aku tidak melihat batang hidungnya. Tiba-tiba dari belakang, aku dikagetkan olehnya. Dan di sepanjang perjalanan, senang sekali hatiku saat dekat dengannya. Kita saling melempar canda. Hari itu adalah hari terindaaaaaaaaaaah bagiku. Namun dibalik itu semua, aku sadar dia hanya menganggapku adik. Dan tak mungkin dia menyukaiku. Tanpa kuduga mataku berkaca-kaca lalu menangis. Aku tidak boleh berhenti melupakannya! Niatku untuk melupakannya kembali menggebu. Bulan demi bulan berlalu, aku sudah menganggapnya kakak dan tak pernah ada dibenakku untuk menyukainya lagi. Seolah-olah sudah menjadi sepasang adik dan kakak.
Sebuah SMS masuk ke inbox handphone ku.
Ka Dava : “Ni Tata ya? Boleh minta nomernya Mary? Dava kelas 11.”
Aku : “Iya. Boleh, 02839310292. Oh, ini ka Dava?”
Ka Dava : “Ya, makasih .”
Aku : “Sama-sama.”
Besoknya ka Dava menyapaku sepulang sekolah. Karena tak ada teman yang kuajak pulang bersama dan dia juga sama denganku akhirnya kami saling mengisi kekosongan itu. Di jalan setapak, dia terus menanyakan Mary. Kurasa dia menyukai Mary. Dan kujawab semua pertanyaannya.
Sejak hari itu, ka Dava jadi lebih sering meng-SMS ku, bukan lagi menanyai tentang Mary, tetapi tentang aku. Di dunia maya dia juga sering mengajakku chatting. Disaat yang sama, dia menyuruhku untuk memanggil namanya saja. Aku menolak karena bagiku tak sopan memanggil sebutan nama pada orang yang lebih tua dariku. Dan selang beberapa waktu kemudian, dia mengakui kalau dia menyukaiku, tapi dia tak mau terburu-buru mengambil keputusan dan dia juga mengatakan ingin mengenalku lebih dekat. Terkejutku dibuatnya. Aku hanya menganggap perkataanya adalah bohong dan hanya isapan jempol belaka. Dia juga berpesan padaku untuk tak marah dan merubah sikapku padanya.
Di hari-hari berikutnya, aku merasa terhibur menjadi temannya. Selalu saja dia membuatku tertawa dengan tingkah dan kelucuannya. Dia semakin dekat dan aku tidak merespon apa-apa karena aku tidak menyukainya.
Sebulan kemudian dipagi hari yang kelabu, ka Dava menyatakan perasaannya lagi, tapi kali ini dia benar-benar serius dan memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku menolaknya, aku tidak menyukainya karena saat itu bayang-bayang ka Man yang terus ada difikiranku. Dan ka Dava bilang kalau dia akan menungguku sampai kapanpun.
Petangnya, aku menceritakan semuanya pada ka Man, dan apa yang kulihat dari sikapnya? Dia begitu cemburu mendengarnya. Angin apakah yang merasuki tubuhnya dan merubahnya seperti ini? Tentu saja aku sangat senang sekali!
Hari selanjutnya, dia menemaniku untuk mengerjakan karya ilmiah tugas sekolahku. Aku, dan temanku Nana serta ka Man pergi ke tempat dimana akan kudapatkan sumber-sumber yang mendukung karya ilmiahku. Disana mereka dekat sekali. Sampai-sampai aku diam saja melihat mereka asyik mengobrol. Timbullah rasa kecemburuanku. Dia lebih menginginkan memulai pembicaraan dengan Nana daripada denganku. Aku teringat sesuatu, Nana lebih dulu suka dengan ka Man daripada aku. Nana tidak tahu kalau aku juga suka dengan ka Man. Terbebanlah lagi batinku. Sepanjang perjalanan, ku hanya melamun. Melamunkan hal yang dulunya ku sepelekan. Sampai dirumah, jatuhlah air mataku. Tangisku terisak. Aku tidak boleh egois, Nana lebih dulu menyukai ka Man, dan apa salahnya kalau ka Man membalasnya? Aku harus mengalah dan itulah yang terbaik walau aku hanya merasakan luka. Lagipula ka Man hanya menganggapku adik. Ikhlaslah hatiku sudah seiring kedekatan mereka kian terlihat.
Dua harinya, ka Man datang ke kelasku. Aku yang sedang mengerjakan tugas saat itu, tak memperdulikannya. Datanglah emosi ka Man, dia marah padaku. Tentu saja dia meninggalkanku dalam keadaan emosi tak terkontrol.
Pada hari yang sama, ka Dava terus saja menghiburku. Dia selalu ada saat aku membutuhkan seseorang yang bisa menghapus kesedihanku. Dia tidak tahu kalau aku menyukai ka Man, yang dia tahu aku adalah adiknya ka Man. Lalu apa yang terjadi? Rasa yang dulu kualami dengan ka Man dating. Aku menyukainya. Dia tak tahu kalau aku sudah meresponnya. Hilanglah semuanya tentang ka Man.
Hari-hari kulalui dengan suka cita bersama ka Dava. Menimbulkan pertanyaan dari teman-teman dan juga guruku.
“Kamu pacarnya Dava ya?” Kata guru padaku.
“Kamu kapan jadian sama Dava?” Kakak kelas menanyai itu.
“Ta, jadian ga bilang-bilang nih.” Kata temanku.
Dan setiap harinya aku selalu saja mendengar dari orang-orang kalau aku pacarnya ka Dava. Padahal kita hanya berteman.
Akhir semester pun tiba. Hari cepat berlalu seiring dengan pembagian rapot yang akan diumumkan minggu depan. Ka Man, secara perlahan mendekatiku lagi. Sepulang sekolah, dia mengajakku pulang bersamanya. Aku yang masih rancu dengan presepsiku tentangnya semakin membuatku bertanya-tanya. Di jalan setapak yang selalu kulewati, dia melontarkan sesuatu. Sesuatu yang tak pernah kuharapkan sebelumnya.
Dia ...
Dia ...
Dia menyatakan rasa sukanya padaku. Tanpa pikir panjang lagi, aku menerimanya dan hari itulah aku dan dia menyandang status “berpacaran”.
Sesampainya di ranjang tempatku melepaskan lelah, aku tersadar. Aku melanggar tekadku. Saat ini, kebingungan yang menoreh dikalbuku membuat tanda tanya dikepalaku. Namun kusudahi itu, karena aku belum mencoba menjalankan ini semua. Yang kuharapkan selalu, nilaiku dan prestasiku dapat meningkat setelah memulai hubungan ini, dan kuharap diapun begitu.
Hari ini, hari pertamaku berpacaran. Sulit kupercaya semuanya terjadi. Senaaaaaannng sekali rasa hatiku. Raut wajahku terpancar aura yang tak pernah kurasa sebelumnya. Tapi, tiba-tiba…
ka Dava meng-SMSku. Dia menanyakan perihal hubunganku dengan ka Man. Aku terdiam sejenak, lalu menitikkan air mata. Tubuhku tersungkur disudut kamar. Kebahagian itu berubah menjadi kesedihan yang terus menggelayut akal sehatku. Kutumpahkan seluruh laraku di tempat itu juga. Semilir angin berhembus, menjadi alunan melodi mewakili apa yang kurasa.
Apa yang kulakukan padanya?
Aku membalas SMSnya sambil menangis. Dia membalas lagi dan apa yang kubaca? Dia sangat sakit mendengar pernyataanku. Aku menjelaskan semua dan dia terus mengatakan Ingat kalau aku bilang, I will you forever?”.
Apa maksudnya?
Sedih, takut dan bingung melanda saat itu. Aku terus meminta maaf padanya dan dia belum bisa menerima semuanya. Tangisku terpecah kala itu, aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapa-siapa. Apalagi ka Lina yang belum mengetahui hubunganku dengan ka Man. Jika ia sudah tahu, apa yang akan diperbuatnya olehku? Sungguh sangat sedih sekali aku saat itu. Aku bingung harus melakukan apa. Tapi sesuatu yang ditutupi itu akan tercium baunya dan benar, tanpa kusadari ka Lina sudah mengetahuinya. Aku sudah merusak kepercayaan mereka. Aku sudah menyakiti 2 orang yang dulunya sangat dekat denganku. Ka Lina dan ka Dava pasti sangat membenciku kini.
Lalu siapakah yang harus ku korbankan? Jika aku memilih mereka, tentulah mereka tidak akan marah padaku, tapi bagaimana denganku dan ka Man? Ku tahu ka Man sangat menyayangiku dia melakukan apa saja untukku asal aku bahagia.
1 pesan diterima
Ka Man : “Adek kenapa? Jangan nangis.”
Aku : “Nangis? Kata siapa.” (dia tahu itu?)
Ka Man : “Udahlah ga usah bohong. Ada apa?”
Kuceritakan semua padanya via SMS. Dia menenangkanku dan membantu mencari jalan keluar yang harus kutempuh.
***
Rasa was-was ketika sampai disekolah bersemayam di raga dan batinku. Aku takut bertemu dengan ka Dava dan ka Lina. Tapi, mau tak mau aku pasti bertemu dengan mereka. Di lorong sekolah, aku bertemu Seby. Namun, dia mengajakku berbicara dengan nada yang tinggi, spontan saja aku langsung merefleksnya dengan rasa emosi yang kukeluarkan dari tubuhkku. Mendengar emosiku, dia membalas dan pergi meninggalkanku.
STOP !
Apalagi ini?
Siapa lagi orang yang kubuat benci pada diriku sendiri?
Astagfirullah al’adzim….
Jiwaku tertekan dan menangis tanpa ada satupun orang yang mengetahui.
Saat ku bertemu dengan ka Lina, dia memasang wajah kesalnya padaku dan menarikku ke suatu tempat yang sangat sunyi. Pembicaraan dimulai darinya, dia mengatakan sudah ikhlas menerima kenyataan yang tak dapat disangkalnya lagi. Aku segera minta maaf dan dia memaafkannya. Ternyata yang ku takutkan selama ini salah. Ka Lina bisa menerima semua walau sangat berat.
Lalu bertatapmukalah diriku dan ka Dava di kantin yang juga sunyi. Dihadapannya ku tertunduk lemas. Tak apalah jika dia mencaci maki atau memarahiku. Yang utama adalah dia mau memaafkanku. Berkali-kali ucapan maaf terlontar dari bibirku, dan dia akhirnya mau memaafkanku. Sekali lagi dia berpesan, apapun yang terjadi, aku tak boleh merubah sikapku terhadapnya dan kusanggupi itu.
Hari berikutnya, ka Dava kembali mendekatiku. Dia mengajakku tertawa. Dibuatlah lelucon-lelucon yang mengocok isi perutku. Akupun tak sungkan untuk membalasnya. Tak kusadari, ka Man merasa cemburu karena itu. Aku menolaknya karena aku takut ka Dava teringat lagi kejadian yang lalu. Sampai akhirnya aku lebih dekat dengan ka Dava daripada ka Man. Membuat ka Man naik pitam dan akhirnya marah padaku. Tapi kemarahan itu hanya sementara karena ku tahu, dia sangat tulus menyayangiku. Akhirnya ku tersadar, aku sudah mempunyai ka Man dan ku mulai menghindar dari ka Dava. Perlahan namun pasti.
Masalah datang lagi, kini ka Aba teman ka Dava yang baru ku kenal lewat situs jejaring di dunia maya. Aku sering chatting dengannya. Dia menanyai orang yang disukainya dan itu teman sekelasku. Sampai akhirnya dia dekat denganku. Setiap pagi, aku berangkat sekolah dengannya dan sepulang sekolah juga. Tapi ku hanya menganggapnya seorang kakak. Lain dengan ka Man, dia merasa aku mengacuhkan dirinya lagi. Kemarahanku membelenggu. Sudah ku jelaskan bahwa sama sekali aku tak mempunyai hubungan spesial dengan ka Aba dan dia salah paham. Namun dia bersikeras tetap pada pendiriannya. Ternyata, ka Man merasa kalau ka Aba tidak menganggapnya ada. Ka Aba mengajakku pulang bersama di depan ka Man tanpa meminta izin dulu dengannya. Informasi itu ku ketahui dari Mila, teman dekatku kini. Aku minta maaf setelah mendengar itu semua. Dan aku berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Rasa sayangku padanya bertambah.
Namun, masalahku tak berhenti sampai disini saja. Aku mempunyai teman yang berbeda kelas denganku. Sari namanya. Di situs jejaring sosial dunia maya, aku dan dia sering bermesraan dalam arti bercanda dan hanya sebagai bahan lucu-lucuan saja. Setelah itu aku akrab dengannya di dunia nyata. Aku jadi menerapkan kata-kata di dunia maya tadi. Ada ka Man pun aku tak memikirkannya, yang ku dekati adalah Sari. Aku tidak bermaksud apa-apa dalam hal ini. Yang kulakukan semata-mata hanyalah untuk hiburan semata. Dan ka Man kesal dengan perlakuanku padanya. Pulang sekolah, dia mengajakku berbicara empat mata. Tak kusangka-sangka dia menanyakan perihal tentang hubunganku dengan Sari yang membuat hatiku tergores. Bisa-bisanya dia menyangka aku menyukai Sari. Apakah dia tahu perasaanku saat ucapannya tersampaikan? Sungguh pedih rasanya! Jahat sekali, orang yang selama ini ku percaya, teganya mengatakan seperti itu. Emosi ku meletup-letup. Marah sekali aku padanya. Melihat kemarahanku sudah seperti itu, barulah dia meminta maaf. Tapi aku belum bisa memaafkannya. Sakit hatiku masih berbekas.
Dia melakukan apa saja agar aku bisa menerimanya kembali. Tapi aku tetap tak mau bergeming. Sampai dia datang kerumahku untuk meminta maaf padahal hari itu lebatnya hujan dan menggelegarnya gemuruh. Dia menyuruhku menemuinya diluar. Aku tetap tak mau. Sakit hatiku ternyata tak tertahankan. Kusuruh dia pulang. Tetapi, perjuangannya tak sampai disitu. Beribu-ribu kata maaf terbebaskan dari bibirnya. Lagi-lagi aku tak mau mendengar. Yang didapat dariku hanyalah amarah yang tak terbendung lagi.
Tiba saat ku sedang sendiri berteduh dibawah pohon yang rindang karena hujan terus menetes tak henti. Kesendirianku terisi ketika ka Man menjemputku dengan satu payung yang dibawanya. Aku tak memintanya, mengapa dia tahu aku ada disini? Teringatku akan satu hal, hari ini ada acara yang berarti dalam hidupnya yaitu pelatihan UN yang dilaksanakan satu kali dan sudah ditunggu-tunggunya sejak lama. Tapi dia mengorbankan itu demi aku. Sungguh ku tersentuh, dan kemudian aku memaafkannya. Kesabarannya membuat ku luluh. Kita berbaikan lagi untuk kesekian kalinya. Dan semua masalah yang kita hadapi, memberi suatu pelajaran berharga untuk mengintropeksi diri masing-masing. Dan itu pulalah yang membuat rasa sayang kita bertambah. Kemudian nilaiku membaik, lebih baik dari sebelumnya. Senang sekali rasanya, juga diiringi prestasinya yang kian bertambah. Menjadi peringkat 1 untuk jurusannya membuatku ikut berbangga hati. Ternyata yang menjadi momok bagiku ini membuahkan hasil yang sangat istimewa dan berharga.
Tunggu dulu, satu lagi masalah. Seby, dia semakin jauh dariku. Apalagi temannya kini sudah banyak dan bukan aku lagi yang menjadi sahabatnya. Sedih sekali melihatnya perlahan meninggalkanku. Aku sudah meminta maaf dan dia sudah memaafkan. Tapi, rasa dia terhadapku beda saat ini. Sekarang, aku tak berarti lagi untuknya. Kenangan yang sudah dijalani bersama terhapus semua. Termenung lagi diriku, 3 tahun untuk dekat dengannya sulit bagiku. Kini dalam sekejap, aku merusak semuanya. Siapakah yang harus disalahkan?
Begitulah akhir perjalanan hatiku yang dipenuhi dengan setumpuk masalah. Aku menghadapinya dan tak boleh kuhindari. Semuanya memberiku pelajarann yang sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat berarti. Aku semakin memahami hidup dan tak lupa bersyukur pada Allah Yang Maha Pengasih. Karena ku yakin, semua yang kupilih dan kujalani, yang baik ataupun yang buruk, pasti itu jalan yang terbaik untukku . Dan sama sekali aku tak pernah menyesal melewati semua karena yang terpenting bagiku, Allah selalu ada saat sedih dan bahagiaku.

No comments:

Post a Comment

isi yaaa ^^